Tujuan Pernikahan Umat Islam di Akhir Zaman

Malang sekali di akhir zaman ini, kebanyakan umat IslamĀ  yang menikah, sudah terlalu jauh menyimpang daripada tujuan dan maksud asal. Menikah bukan lagi membawa cita-cita Islam. Menikah tidak ada lagi dihubungkan dengan perjuangan Islam. Menikah tidak lagi mempunyai cita-cita untuk menegakkan tapak masyarakat dan umat Islam. Menikah bukan lagi dengan tujuan-tujuan untuk menyiapkan aset jangka panjang untuk satu perjuangan Islam yang sambung-menyambung. Selain daripada tidak membawa cita-cita Islam, perkahwinan itu sudah membawa tujuan yang terlalu kecil, dengan maksud yang remeh temeh yakni tujuan yang sama seperti hewan menikah. Menikah itu dengan tujuan hendak memuaskan nafsu seks, untuk berhibur dan bersenang-senang atau kalau ada tambahannya lagi selain daripada maksud-maksud tadi, ialah menikah sekadar untuk mendapatkan anak. Juga karena inginkan perlindungan, kalau dia seorang wanita. Mungkin juga karena tidak mau sepi. Sebagianorang malu kalau tidak menikah, seolah-olah tidak laku. Malu menjadi perawan tua. Ada juga yang menikah karena memikirkan, nanti kalau aku mati siapalah pula yang akan mewarisi harta aku. Atau, kalau aku tidak menikah nanti, sakit pening siapa yang akan mengurusnya. Siapa yang akan menguruskan makan minumku.

Yang amat menyedihkan, waktu tunangan saja, waktu hendak menyarungkan cincin ke jari perempuan, dihantar satu angkatan dan rombongan lelaki dan perempuan dengan berbagai hadiah yang mewah dan mahal. Belum lagi dengan hadiah uang yang besar serta hadiah-hadiah serba nomor satu. Apatah lagi waktu kenduri penikahan, adakalanya dibuat di hotel lima bintang, dijemput ribuan orang. Orang kecil, orang besar semuanya datang, memakan belanja puluhan atau ratusan ribu ringgit dengan program hiburan untuk memeriahkan dua pengantin baru. Selepas itu disambung pula dengan berbulan madu di tempat-tempat hiburan yang terkenal, menghabiskan uang yang banyak dan diumumkan di dalam surat khabar serta di TV.

Sedangkan tujuan perkahwinan itu terlalu kecil seperti yang saya sebutkan tadi atau sebelum ini yaitu menikah dengan tujuan untuk bersenang-senang dan berhibur-hibur di antara dua jenis manusia yang memang memerlukan satu sama lain.

Oleh itu jelas sekali di awal-awal lagi cita-cita dan perjuangan umat Islam telah tersilap yaitu tersilap cita-citanya waktu seorang hinggalah waktu pertemuan dua manusia yang berlainan jenis pun tersilap lagi cita-cita itu. Setelah itu kalau Allah Taala takdirkan dianugerahkan anak-anak, didikannya pula tersalah lagi. Tidak mendidik yang ada hubung kait dengan cita-cita Islam walaupun keluarga itu orang Islam. Bagaimanalah hendak lahir rumah tangga atau keluarga Islam. Kalau Islam tidak dapat ditegakkan di peringkat keluarga, sudah tentu ia tidak lahir di dalam masyarakat, dalam negara, dan lebih-lebih lagi dalam alam sejagat karena sudah tentu lebih sulit lagi untuk menegakkannya.

Leave a Reply